Sebuah Cerita di Dusun Juwet

Sebuah Cerita dari Dusun Juwet

oleh : Muhammad Firdaus Rahmatullah, S.Pd. (Guru Bahasa Indonesia SMKN Mojoagung)

 

Usai pemakaman itu, sikap Bu Polo berubah. Bu Polo yang sehari-hari senantiasa bersikap ramah dan menebar senyum kepada warga Dusun Juwet, kini raut wajahnya dipenuhi kemuraman bagai langit hitam di musim badai. Rona ceria hilang dari peraupannya. Tentu hal ini disebabkan pemakaman itu di luar nalar seorang perempuan seperti Bu Polo. Air muka yang senantiasa sumringah mendadak kelabu dan tiada menunjukkan sikap seperti biasa. Bu Polo masih tak percaya, bahwa yang dimakamkan semalam, bahwa yang menyebabkan tangisnya tumpah menderu-deru, tiada lain tiada bukan adalah suaminya, Pak Polo.

Sekian tahun Bu Polo hidup bersama sang suami, yang tak lain adalah Kepala Dusun Juwet, kini harus meninggalkan Bu Polo untuk selama-lamanya. Kasihan betul Bu Polo. Dan yang membuat seluruh warga semakin iba adalah Bu Polo harus menjalani hidup seorang diri selanjutnya, sebab setelah sekian tahun berkeluarga, Bu Polo tidak dikaruniai seorang anak pun. Warga dusun, terutama tetangga terdekatnya, gupuh karepe dewe, takut jika Bu Polo melakukan hal-hal yang tak baik, sehingga tatkala usai pemakaman itu, mereka menyembunyikan benda-benda tajam dan menyakitkan yang sekiranya dapat dipergunakan untuk hal-hal yang tak baik itu tadi.

Sungguh warga dusun mencintai Bu Polo. Tak henti-henti, saban waktu, pagi, siang sore, malam, hingga pagi lagi, mereka―para tetangga―sukarela bergantian menjaga Bu Polo di masa berkabung itu. Warga dusun tahu, bahwa Bu Polo sudah tidak memiliki sanak keluarga atau kerabat lagi. Selain untuk menghibur Bu Polo, mereka juga yang menyiapkan makan, mandi, hingga tidur pun ditemani. Semua itu tak lain adalah untuk menjaga Bu Polo dari hal-hal yang tak baik itu tadi.

* * *

 

Bu Polo amat mencintai Pak Polo. Begitu sebaliknya. Saban pagi, sebelum Pak Polo berangkat kerja, Bu Polo membuatkan kopi panas untuk suaminya itu. Bu Polo selalu menakar dengan hati-hati dan saksama sebelum dihidangkan, sebab itulah yang disukai suaminya: tiga sendok teh bubuk kopi dan satu sendok teh gula pasir. Airnya pun dimasak hingga masak benar. Bu Polo beranggapan bahwa kopi yang dimasak dan disajikan dengan baik akan baik pula bagi peminumnya sehingga bekerja pun menjadi baik.

Kebiasaan itu telah dilakukan sejak keduanya menikah.

Begitu pula dengan malam itu. Bu Polo membuatkan secangkir kopi untuk Pak Polo. Tidak biasanya suaminya itu minta dibuatkan kopi, apalagi sudah waktunya tidur dan beristirahat. Pak Polo berkata bahwa ia harus menyelesaikan urusan ribut-ribut soal tanah.

Sebenarnya Bu Polo sudah melarang suaminya untuk keluar karena malam semakin larut, “Apa harus malam ini, Pak?”

Namun Pak Polo tersenyum dan bilang, “Ini masalah hak warga. Aku janji akan langsung pulang.” Ucapan suaminya itu membuat hati Bu Polo lunak dan memberi izin Pak Polo pergi.

Usai ditinggal Pak Polo, Bu Polo berusaha tidur, mencoba memejamkan mata berkali-kali, namun gagal. Bu Polo kemudian menonton tivi, namun kantuk tak kunjung datang. Mondar-mandir di dalam rumah pun sudah dilakukan, namun lagi-lagi gagal. Menjelang dinihari, Bu Polo akhirnya terkantuk dan tertidur di kursi ruang tamu.

Bu Polo bermimpi didatangi suaminya. Wajahnya tampak bersinar dan cerah, jauh dari kesehariannya yang senantiasa bekerja sebagai petani tebu. Bu Polo bertanya, ‘Kok sudah pulang, Pak? Apa sudah selesai urusannya?’ Pak Polo hanya mesem, kemudian membelai rambut istrinya sembari mencium keningnya. Lantas pergi. Bu Polo pun memanggil-manggil suaminya namun Pak Polo semakin menjauh hingga hilang dari pandangan Bu Polo. Bak angin, tiada membekas.

Bu Polo tiba-tiba terbangun. Ketika bangun, yang ia dapati adalah orang-orang sudah berkumpul di rumahnya sambil mengelilingi sesuatu yang ada di hadapan mereka. Bu Polo tidak menyadari apa yang telah terjadi di dalam rumahnya. Seorang perempuan tua tengah memangkunya yang terlelap sedari tadi. Bu Polo semakin tak mengerti mengapa begitu banyak orang di rumahnya berkerudung dan berkopyah tengah membaca Yasin dan tahlil silih berganti, padahal Bu Polo sama sekali merasa tidak mengundang mereka apalagi sampai menyelenggarakan pengajian di rumahnya.

Bu Polo lantas beranjak dari pangkuan si perempuan tua dan menuju sesuatu yang dikelilingi oleh orang-orang itu. Perempuan tua itu pun mengikuti Bu Polo. Bu Polo tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Tepat di tengah orang-orang berkopyah dan berkerudung itu, yang mereka bacakan Yasin dan tahlil itu, terbaring suaminya yang berbalut kain putih-putih. Sekonyong-konyong Bu Polo memeluk suaminya yang terbaring itu. Mencoba membangunkannya. Air matanya pun tak menetes.

“Pak… bangun, Pak… sampun injing… kok Bapak masih tidur? Apa karena belum Ibu buatkan kopi?”

Perempuan tua yang menguntit Bu Polo berusaha menenangkan keadaan majikannya. “Sabar, nduk… sabar…”

“Pak… bangun, Pak. Apa Bapak terganggu sama orang-orang ini? Biar Ibu suruh pergi.”

Bu Polo lantas bangkit dan berteriak, “Hei kalian, cepat keluar dari rumah saya! Bapak tidak mau bangun jika kalian tidak pergi! Cepat pergi! Keluar semua! Keluar…!”

Para lelaki pun segera menenangkan Bu Polo dan cepat-cepat meraihnya. Ada yang memegang tangannya, ada yang memegang kakinya, sehingga Bu Polo tidak bisa bergerak. Bu Polo makin berontak. Tapi tangan-tangan itu lebih kuat dari tenaga Bu Polo. Menyakitkan memang, tapi semua itu mereka lakukan agar keadaan Bu Polo tidak menjadi-jadi. Hingga akhirnya Bu Polo kembali tertidur.

* * *

Kematian Pak Polo adalah penyebab tangis orang-orang tumpah. Warga dusun itu kehilangan sosok pemberani sekaligus dihormati dan dicintai lantaran dialah orang yang pertama kali menentang habis-habisan pembangunan jalan tol dan by pass, sehingga memakan tanah dan sawah warga. Tak tanggung-tanggung, lahan pemakaman dusun turut dibongkar dan digusur demi keberlangsungan proyek pemerintah tersebut.

“Rakyat juragane, pemerentah buruhe,” begitu yang selalu didengungkan Pak Polo agar para kontraktor itu segera angkat kaki dari tanah-sawah desa yang dipimpinnya.

“Apakah dengan pembangunan tol itu Saudara kian sejahtera? Apakah pemerentah tidak berpikir, setelah kita menjual tanah-sawah ini, lantas mau bekerja apa? Makan apa?”

Pak Polo yang bertahun-tahun menjadi kepala dusun, yang memimpin warganya yang mayoritas petani, tak dapat menyembunyikan amarah dan kegeramannya. Ia murka.

“Apakah mereka sudah tidak punya otak, Saudara-saudara?”

Bu Polo sesenggukan berulang kali lantaran suaminya telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Di pelupuk matanya, airmata itu tumpah tak terbendung bendungan jiwa. Perempuan itu masih tak percaya bahwa satu-satunya lelaki yang amat sangat dicintainya mati secepat itu. Ia ingat, malam itu, ketika Sadeli datang ke rumah menjemput suaminya. Sadeli mengutarakan bahwa ada salah satu warga yang sawahnya diuruk oleh beberapa truk pembawa tanah uruk. Ia menyangka, pastilah itu ulah kontraktor-kontraktor begundal itu, yang ingin segera memulai proyek tol dan by pass, tanpa persetujuan warga terlebih dulu.

* * *

Bergelombang-gelombang rombongan manusia dari berbagai dusun silih-berganti datang ke pemakaman itu. Bergelombang-gelombang pula orang-orang itu mensalati jenazah Pak Polo. Dalam ingatan mereka, Pak Polo laksana Nabi Musa yang melindungi umatnya dari pengejaran bala tentara maharaja Firaun. Pak Polo menegakkan harga diri dan martabat desanya. Ia tak ingin warga yang dipimpinnya kehilangan sawah dan ladang―yang sejak dulu sudah menjadi lahan mata pencaharian leluhur-leluhur mereka―demi meluluskan keinginan pemerintah yang tak masuk akal.

“Apakah setelah mendapat uang ganti rugi, kami dapat hidup tenang tanpa pekerjaan? Sawah-sawah kami adalah darah kami, keringat kami, air mata kami, anak-anak kami, supaya kehidupan kami tetap berlangsung. Kami tak mengenal aspal, yang kami kenal hanyalah lumpur yang dapat menyuburkan padi dan tebu. Kami tak mengenal beton, yang kami kenal hanyalah ubi jalar yang ditanam di tegalan sawah secara tumpangsari. Kami tak mengenal jalan tol, yang kami kenal hanyalah rumput-rumput di sawah yang harus disiangi.”

Pak Polo yang juga seorang petani memahami bagaimana perasaan warganya yang mayoritas petani.

“Oleh karena itu, kami tak sudi menyerahkan sawah-sawah kami untuk proyek pemerentah yang selama ini tak pernah memberikan pupuk murah dan harga yang pantas bagi hasil bumi kami. Kami juga tak sudi sawah-sawah kami dijadikan bantalan mobil dan motor impor yang didatangkan dengan menggunakan uang hasil pajak sawah-sawah kami!”

Rombongan penziarah itu mengingat tatkala Pak Polo mengusir truk-truk pengangkut batu, pasir, semen, aspal, dan tanah uruk untuk pembangunan tol dan by pass, serta menggulingkan kapal keruk ke kali Brantas hingga membuat kontraktor itu muntab dan hendak mempidanakan Pak Polo. Semua itu dilakukan Pak Polo agar sawah-sawah milik warganya tidak dijadikan jalan tol dan by pass. Supaya kehidupan warganya kembali tenang, menggarap sawah dengan perasaan tenang, bekerja dengan tenang, menghasilkan padi-beras yang tenang, menghasilkan tebu-gula yang tenang, dan dapat membiayai anak-anak mereka hingga lulus dan menjadi orang yang berguna dan berperilaku tenang. Itu saja. Tak lebih. Apalagi lebih dari itu.

Di antara gelombang-gelombang rombongan itu, Sadeli adalah orang yang paling bersedih. Ia merasa amat sangat bersalah lantaran melaporkan perkara itu pada Pak Polo malam itu. Keduanya tak menyangka, sebetulnya rencana itu sudah diatur sedemikian rupa oleh para kontraktor—tentu saja ada para pejabat setempat yang membekengi—sehingga mencelakakan Pak Polo.

Malam itu tidak begitu dingin. Angin tercekat di antara rerimbun tebu yang berjajar di kiri-kanan desa. Izrail seperti telah memastikan bahwa salah satu klan manusia akan ia jemput dan dibungkus dalam tabung roh. Suara-suara aneka jenis binatang pun terhenti, langit senyap, cahaya rembulan pelan-pelan menelusup ke dalam kemudi Pak Polo. Seolah, sang malaikat maut menjelma sinaran rembulan itu dan mencerabut nyawa Pak Polo yang tengah khidmat menikmati sebatang kretek, seolah telah terjadi perjanjian di antara keduanya.

Sadeli bersaksi, sejatinya kepergian Pak Polo malam itu telah dirancang oleh Pak Lurah, yang notabene benci bukan buatan dengan sikap penolakan Pak Polo terhadap proyek itu. Tentu Pak Lurah akan mendapatkan banyak keuntungan dari hasil pembangunan jalan itu. Termasuk sebagai portofolio prestasi kerjanya pada pilkades berikutnya.

“Ini demi meningkatkan taraf hidup warga sekitar,” katanya.

Lalu ia menuding balik Sadeli telah memfitnah dirinya dan akan melaporkan ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik. Aksi saling tuding itu tidak berlanjut sebab warga dusun lebih memprioritaskan pemakaman Pak Polo. Tentu terhadap nasib Bu Polo kelak.

Bak kisah penangkapan Pangeran Diponegoro, Pak Polo juga ditangkap. Tak ada yang tahu dibawa ke mana. Seolah raib begitu saja. Menjelang magrib, tatkala burung terik berombongan menuju timur, ketika anak-anak hendak berangkat menuju masjid, seorang tukang perahu-gethek menemukan mayat seseorang yang tersangkut di batu-batu besar kali Brantas. Semilir angin beradu azan magrib mengentakkan mata lelaki tua itu. Bahwa mayat yang ditemukannya itu tak lain tak bukan adalah Pak Polo adanya.

* * *

Di gundukan kuburan yang masih baru dan basah itu, Bu Polo semaput. Ibu-ibu yang turut mengantar pun kelimpungan sehingga memanggil bapak-bapak yang masih mengerumuni makam Pak Polo. Di dalam keributan itu, mereka bergumam satu sama lain.

“Siapa lagi yang akan menyelamatkan tanah-tanah kami dari proyek-proyek selanjutnya…” [mfr]

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *