oleh : Mochammad Ajib Nurfaizin, S.Pd., M.M. (Guru Manajemen Perkantoran SMKN Mojoagung)
Dulu, sosok guru berdiri dengan membawa wibawa. Bukan karena kekuasaan, tapi karena ketegasan dan kasih sayang. Setiap nasehatnya dihormati. Setiap tegurannya diterima dengan rasa hormat. Namun kini, dunia pendidikan seperti terbalik. Guru takut menegur, sementara murid semakin berani menantang. Bukan berarti guru kehilangan kepedulian, tapi karena merekat takut disalahkan, diviralkan, diadukan, bahkan dipermalukan oleh sistem yang tidak pada nilai moral.
- Wibawa guru hilang karena salah tafsir tentang “Kebebasan”
Kini, kebebasan sering disalahartikan sebagai bebas tanpa batas. Banyak murid merasa berhak berbuat apa saja dengan mengatasnamakan “Kebebasan Berekspresi” tanpa tanggung jawab di baliknya. Sementara itu, Ketika guru menegur, mereka dianggap kuno atau mengekang. Padahal, disiplin bukan musuh kebebasan, melainkan pondasinya,. Sebab, tanpa adanya disiplin, kebebasan hanya akan melahirkan ketidakteraturan (irregularity). Wibawa guru tumbuh dari ketegasan dan konsistensi. Namun, Ketika suara guru dibungkam oleh tekanan sosial dan birokrasi, maka pendidikan sudah kehilangan Ruhnya. Guru akan berubah menjadi sekadar Pengajar, yang hanya menyampaikan pengetahuan tanpa menanamkan nilai-nilai moral.
- Dunia lebih peduli “Image” daripada karakter, sekolah kini berlomba tampak “Ramah” dan “Bebas Tekanan”
Namun di balik slogan manis itu, aturan tak lagi ditegakkan dengan tegas. Anak-anak tumbuh tanpa memahami batasan. Padahal, karakter tidak lahir dari kenyamanan. Tapi dari konsekuensi dan ketegasan. Jika setiap kesalahan dimaafkan demi menjaga citra, maka akan menghasilkan persepsi, sebuah tanggung jawab bisa dihindari.
- Guru hidup di bawah bayang-bayang rasa takut
Guru zaman sekarang bukan tidak peduli, namun mereka TAKUT. Takut dilaporkan, takut diviralkan dan takut dilaporkan kepada orang tua, takut dianggap “Kekerasan kepada siswa”. Bahkan sampai pada guru takut untuk kehilangan pekerjaan. Padahal dulu, guru berani berkata benar walau tak disukai. Kini, mereka menimbang kata agar tidak melanggar aturan administratif. Akibatnya, banyak yang memilih diam dan tidak mau tahu, kesalahan dibiarkan, kedisiplinan hilang, dan generasi kehilangan arah moral.
- Murid kehilangan rasa takut yang sehat
Rasa takut yang sehat pernah membuat murid menghormati guru, takut berbuat salah, takut mengecewakan. Namun sekarang, rasa takut itu diganti oleh keberanian yang tanpa arah, didukung media sosial dan orang tua yang terlalu protektif. Tanpa rasa hormat, pendidikan, rasanya, menjadi panggung Eeo, murid merasa lebih tinggi dari gurunya.
- Ketika aturan tak lagi ditegakkan, maka masa depan menjadi taruhan
Generasi yang tumbuh tanpa batasan akan kesulitan menerima kritik dan kegagalan. Guru yang diam bukan menjaga kedamaian, tapi sedang menyiapkan generasi rapuh yang tak siap hidup di dunia nyata. Jadi ketegasan mati, bangsa kehilangan arah moral.
Kita tidak butuh banyak guru yang menyenangkan, tapi guru yang berani menegakkan nilai-nilai moral. Karena pendidikan sejati buka soal membuat murid menjadi nyaman, tapi menyiapkan mereka untuk lebih siap menatap masa depan lebih baik.
Jika dulu, murid takut melanggar aturan, maka sekarang, masyarakat harus takut kehilangan guru yang berani menegakkannya. Tanpa itu, sekolah hanyalah gedung yang membisu dan pendidikan hanyalah formalitas, rapuh tanpa jiwa. [man]















