Catatan Reflektif Pelaksanaan PSAJ Tahun 2026

Refleksi PSAJ

oleh: Muhammad Firdaus Rahmatullah, S.Pd. (Guru Bahasa Indonesia SMKN Mojoagung)

Pelaksanaan Penilaian Sumatif Akhir Jenjang (PSAJ) SMKN Mojoagung pada 6–15 April 2026 baru saja usai. Setelah hari-hari yang berjalan cukup padat, ada jeda yang terasa berbeda—seolah memberi ruang untuk melihat kembali apa yang sebenarnya terjadi di balik rangkaian asesmen akhir tersebut.

Saya menyaksikan bagaimana pelaksanaan PSAJ kali ini berjalan dengan pendekatan yang tidak lagi sepenuhnya konvensional. Sistem paperless berbasis komputer dengan skema semidaring menghadirkan suasana yang lain dari biasanya. Ruang-ruang ujian tetap hening, tetapi tidak lagi dipenuhi kertas-kertas soal. Ada layar komputer, ada perangkat, dan ada ritme baru yang pelan-pelan mulai terbiasa.

Pada beberapa kesempatan, saya juga melihat dinamika yang barangkali luput jika hanya dilihat dari laporan akhir. Ada murid yang menyelesaikan ujian lebih cepat, lalu mulai berbincang ringan dengan temannya. Bukan sesuatu yang sepenuhnya mengganggu, tetapi cukup memberi gambaran bahwa setiap murid memiliki ritme dan cara menghadapi ujian yang berbeda. Di titik ini, kehadiran pengawas menjadi penting—bukan sekadar menjaga ketertiban, tetapi memastikan suasana tetap terarah hingga waktu benar-benar usai. Pun demikian proktor, sebagai pemandu jalannya ujian.

Namun, di balik hal-hal teknis itu, ada kesan lain yang cukup terasa. Ujian akhir yang dulu sering dipandang sebagai sesuatu yang menegangkan—bahkan cenderung ditakuti—kali ini tampak dijalani dengan suasana yang cair. Saya tidak melihat ketegangan yang berlebihan. Justru ada kesan bahwa ujian menjadi bagian dari proses yang dijalani, bukan sesuatu yang harus dihadapi dengan rasa cemas yang berlebihan. Tentu, sebagian besar dari mereka telah belajar segenap jiwa dan raga malam-malam sebelumnya.

Di titik ini, saya mulai berpikir bahwa barangkali perubahan pendekatan—baik dari sisi sistem maupun cara pandang—pelan-pelan menggeser makna ujian itu sendiri. Apa yang selama ini dianggap sebagai “akhir” mungkin sedang bergerak menjadi bagian dari perjalanan belajar.

Pemikiran ini terasa sejalan dengan arah kebijakan yang disampaikan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam berbagai panduan asesmen, khususnya pada jenjang SMK. Asesmen tidak lagi semata-mata dimaknai sebagai alat ukur hasil, tetapi juga sebagai bagian dari proses belajar yang memberi umpan balik, ruang tumbuh, dan pengalaman yang lebih bermakna bagi siswa. Di titik ini perlu dicermati lagi, apakah asesmen demikian masih relevan ketika kurikulum telah bergeser menjadi Merdeka dan Mendalam. Atau, perlukah kita menggeser makna asesmen sebagaimana kurikulum yang berlaku di masing-masing satuan pendidikan.

Tentu, pelaksanaan PSAJ kali ini belum sepenuhnya tanpa catatan. Masih ada hal-hal kecil yang bisa diperbaiki dan disempurnakan. Namun, dari apa yang saya amati dan rasakan, ada satu hal yang cukup kuat tertinggal: bahwa perubahan, sekecil apa pun, sedang berlangsung. Dan itu dimulai dari kegiatan PSAJ tahun ini.

Dan mungkin, di situlah letak pentingnya—bukan pada seberapa sempurna pelaksanaannya, tetapi pada bagaimana kita mulai melihat ujian dengan cara yang berbeda. [mfr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *