Mojoagung, Jombang – Suasana berbeda terasa di halaman SMKN Mojoagung pada Rabu pagi, 20 Agustus 2025. Ratusan murid berdiri rapi mengikuti apel pembukaan, begitu juga dengan para guru dan tenaga kependidikan; sementara di sisi lain sebuah obor sudah siap dinyalakan. Begitu Kepala SMKN Mojoagung, Panca Sutrisno, S.Pd., M.Si., menyalakan obor tersebut, riuh tepuk tangan pun menggema. Api itu bukan sekadar simbol dimulainya acara, melainkan juga semangat baru keluarga besar SMKN Mojoagung yang tengah merayakan Dies Natalis ke-45 dengan tema “Smekenmo 45 Katon Sumunar”.

Tema berbahasa Jawa ini sarat makna: “SMKN Mojoagung kian tampak bersinar dan bercahaya pada usia ke-45 tahun.” Ungkapan syukur atas perjalanan panjang selama 45 tahun, sekaligus doa agar langkah ke depan semakin terang dan prestasi sekolah makin gemilang.
Hari Pertama: Lomba Seru, Tawa Guru dan Murid Menyatu
Selepas apel, kemeriahan berlanjut dengan beragam lomba yang mempertemukan guru dan siswa dalam suasana penuh keakraban. Para murid sudah siap menyaksikan perlombaan tersebut dengan duduk di pinggir lapangan basket.

Bagi para guru, ada tiga lomba yang menguji ketekunan sekaligus memancing tawa. Pada Lomba Balon Kancing, guru menjaga balon agar tetap terbang selagi mengancingkan baju yang telah disediakan oleh panitia hingga tuntas. Lalu Corong Bola, di mana mereka harus memungut bola kecil dan memasukkan ke kantong kresek yang dicangklongkan sembari menggunakan corong panjang—benar-benar menguji kecermatan. Tak kalah heboh, ada Squid Game versi Smekenmo, adaptasi ringan dari serial populer, yakni melemparkan sandal ke susunan sandal di depan tim lantas memungutnya kembali jika tidak roboh. Ini menuntut kecermatan dan kecepatan mengikuti instruksi gerakan; salah langkah, gugur.

Para murid pun tidak kalah semangat. Estafet Koin Tepung membuat wajah mereka penuh tepung putih saat harus memindahkan koin hanya dengan mulut. Ada pula Roda Kardus, yang menuntut kerja keras dan teknik tertentu dalam menggerakkan lingkaran kardus. Sementara di Corong Air, strategi diuji: air harus dialirkan estafet ke botol berikutnya tanpa banyak tumpah.

Sepanjang hari, halaman-lapangan sekolah dipenuhi gelak tawa, sorak dukungan, dan tepuk tangan meriah. Semua menikmati lomba-lomba yang disajikan. Lebih dari sekadar lomba, semuanya menjadi momen kebersamaan, sportivitas, dan sukacita.

Menjelang tengah hari, kegiatan ditutup dengan gladi resik untuk acara puncak esok hari. Suasana berubah khidmat—guru dan murid bersiap menampilkan yang terbaik di panggung Dies Natalis. Persiapan pun ditata sedemikian rupa.
Hari Kedua: Puncak Perayaan, Pentas Seni, dan Pawai Budaya
Kamis, 21 Agustus 2025, menjadi puncak perayaan. Acara dibuka dengan pemotongan tumpeng oleh kepala sekolah didampingi para wakil kepala sekolah, sebagai tanda syukur, sekaligus peluncuran “Wajah Baru Media Sosial SMKN Mojoagung”. Dengan wajah baru ini, kini sekolah tampil lebih informatif dan dekat dengan masyarakat melalui website, Instagram, Facebook, TikTok, hingga YouTube.

“Dies Natalis ke-45 ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga momentum untuk merefleksikan perjalanan panjang SMKN Mojoagung. Semoga dengan semangat ‘Smekenmo Katon Sumunar‘, sekolah kita semakin bersinar, melahirkan generasi yang berkarakter, berprestasi, dan tetap menjunjung tinggi budaya bangsa dan toleransi,” ujar Pak Panca dalam sambutannya.

Panggung utama kemudian dipenuhi kreasi murid. Setiap kelas membawakan pentas seni bertema Jawa dan retro: dari permainan dolanan anak, cerita rakyat, tarian tradisional, nyanyian bersama, hingga drama-musik-komedi yang mengundang tawa. Semua menunjukkan bahwa budaya lokal bisa berpadu harmonis dengan keunikan dan ciri khas yang diusung.

Setelah itu, suasana makin meriah dengan pawai budaya. Satu per satu kelas keluar dari gerbang sekolah, berjalan beriringan melewati jalan-jalan desa di sekitar Desa Miagan. Kostum warna-warni dengan tema Jawa dan retro, properti unik, dan keceriaan jadi hiburan tersendiri bagi warga yang menonton. Pawai ini bukan sekadar tontonan, tapi juga wujud rasa syukur sekaligus sarana mengenalkan budaya dan sekolah kepada masyarakat.

Sesampainya kembali di sekolah, acara dilanjutkan dengan penampilan hiburan band. Lagu-lagu energik membuat sore terasa semakin hidup, sekaligus menjadi pengiring dan penutup manis seluruh rangkaian Dies Natalis. Di saat yang sama, diumumkan pula para pemenang lomba dan pawai dari berbagai kelas dan konsentrasi keahlian. Sorak sorai menggema setiap kali nama pemenang dipanggil. Tak lupa pula juga diumumkan door prize bagi para murid yang beruntuk dalam kegiatan pawai.

Lebih dari Sekadar Perayaan
Dies Natalis ke-45 SMKN Mojoagung bukan ajang tahunan untuk bersuka ria belaka. Apalagi berpesta. Di balik lomba, pentas seni, dan pawai budaya, tersimpan pesan yang lebih dalam: tentang kebersamaan guru dan murid, kebanggaan terhadap budaya, serta semangat sekolah yang terus menyala dalam rangka berpartisipasi menghadirkan pendidikan (vokasi) yang bermutu untuk semua.

Tema “Smekenmo 45 Katon Sumunar” benar-benar terasa maknanya. Di usia ke-45, SMKN Mojoagung tak hanya berdiri sebagai lembaga pendidikan formal bagi masyarakat Mojoagung dan sekitarnya, tetapi juga bersinar sebagai pusat kreativitas, kebudayaan, dan vokasi yang andal. [humas]
















