A’Ladang

A'Ladang

oleh: Almira Dwi Rahmawati (Murid X MPLB 1 SMKN Mojoagung)

Kata orang, tempat paling nyaman untuk pulang adalah keluarga.

Kata orang, hidup paling membahagiakan adalah ketika bersama pasangan.

Kata orang, masa paling indah ketika bersama teman-teman.

Lalu, aku harus ke mana? Untuk menuju sebuah rumah.

Pagi itu, ragaku terbangun, tanpa semangat, dan kehampaan mengambil alih.

Tubuhku bangkit, kepalaku sakit. Namun, siapa yang peduli?

Aku menatap diriku di depan cermin, menampakkan seragam putihku terbalut, dengan rambut panjangku yang mulai rontok.

Tak ada sapaan maupun sarapan untukku, semua sibuk dengan dunianya. Tidak. Tapi, mereka hanya tak ingin aku ada.

Aku mengambil susu kotak di kulkas dengan segera keluar dari bangunan ini.

Hanya aku. Di saat semua duduk di meja makan, dengan kursi bermuatan 4 orang.

Aku sakit, aku jatuh. Namun aku tak boleh lemah, aku kuat, aku harus kuat.

Masa mudaku hancur.

Kesempatanku hilang.

Semangatku tiada.

Alasanku tak ada.

Malam itu, ketika aku sampai di ‘rumah’.

Orang tuaku berpamitan untuk pergi keluar negeri, mereka menyogokku dengan barang-barang yang tak pernah kuinginkan.

Kakakku melihatku sekilas, tanpa mempedulikanku.

Adikku sibuk dengan kartun favoritnya.

Aku capek, aku ingin dipeluk, dilihat, aku ingin waktu bersama keluargaku. Seperti anak yang lain.

Aku mati-matian berdiri dengan jiwa yang tangguh, dengan hati yang dipaksa kuat tanpa rapuh.

Hingga malam itu, di ulang tahunku yang ke-15.

“Ancian, makan dulu sayang.”

Ibuku meneriaki namaku dari arah pintu.

Aku menghapus air mataku, mengingat tinggal 5 jam waktu berganti.

Di sana, kue tertata rapi, makanan favoritku tersusun cantik.

Aku senang walaupun heran.

Harusnya aku senang, bukan begitu?

Apa yang membuat mereka merayakanku?

Kenapa baru sekarang?

Di mana simpati dan rasa percaya mereka dahulu?

Di tujuh belasku, adikku terkena diagnosa kanker jantung.

Operasi berlanjut, dari hari ke bulan.

Dan mereka, dengan lantang mengatakan.

“Ancian, Ibu boleh ya sayang ambil ragamu untuk adik”

Aku terdiam, berdiri, berlari.

Entah kemana aku berlari, aku terus berlari.

Aku menangis, aku berteriak.

KENAPA HARUS AKU

KENAPA HARUS AKU

KAPAN AKU BEBAS

KAPAN AKU MENDAPATKAN WAKTU

KENAPA BAHAGIA TAK PERNAH DATANG UNTUKKU

AKU CAPEK

kenapa?

Tubuhku tergeletak, badanku kaku, kepalaku sakit, hatiku hancur, jiwaku rapuh.

Saat ini, aku merasa duduk di pemakaman, dengan 4 batu nisan di sana.

Mataku buram, air mata keluar spontan.

Sebegitu tak maunya mereka di dekatku, kah?

Hingga di akhir kehidupan, mereka meninggalkanku.

Apa aku bermimpi?

Apa aku berhalusinasi?

Aku membaringkan tubuhku di ladang hijau.

Menatap langit yang cerah.

Dengan sekelompok burung merpati beterbangan.

Aku bangkit, menuju arah belakangku.

Memeluk wanita yang telah melahirkanku, dengan menatap punggung 3 pria yang selalu mengisi bangunan rumahku dulu.

Di depan batu nisanku.

Mungkin, bukan mereka, namun aku.

Yang meninggalkan mereka.

Adikku menoleh, tersenyum kepadaku.

Dia menangis, aku memeluknya.

“Kak, maaf… “

Aku mengusap rambutnya yang mulai panjang.

Dengan harapan ia mulai tenang.

Sejak saat itu peristirahatanku terlihat cantik selalu, dipenuhi bunga, seperti ladang hijau.

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *