oleh : Isroatul Fadila Agustina (Murid X TKI 1 SMKN Mojoagung)
Pada suatu hari, ada seekor kucing yang sedang bermain di taman. Dia selalu bermain di taman sendirian. Waktu itu tidak sengaja ada hewan lain yang juga ikut bermain di taman tersebut. Si kucing heran siapa hewan yang bermain di taman.
“Siapa sih hewan itu? Berani-beraninya dia bermain di sini!” Gumam si kucing.
Tanpa berpikir panjang, si kucing datang menghampiri hewan tersebut dan bertanya.
“Siapa kamu? Berani-beraninya bermain di sini! Ini itu tempat bermainku tau!” Ucap kucing dengan nada keras.
Ternyata yang sedang bermain di taman tersebut adalah anjing. Setelah mengetahui bahwa yang bermain di taman adalah anjing, si kucing tidak terima. Si kucing marah dan berbicara kasar kepada si anjing.
“Ternyata kamu ya anjing! Pergi dari sini kamu, ini bukan tempatmu, aku yang berkuasa di sini!” Ucap kucing dengan nada tinggi.
Si anjing yang mendengar ucapan kucing langsung emosi, niat ingin menenangkan diri malah mendengar ucapan kucing yang membuatnya makin sakit hati.
“Kamu kenapa sih? Aku cuma mau nenangin diri disini sebentar,” jawab si anjing.
“Aku ga peduli! Pokoknya kamu harus pergi dari sini!” Ucap lagi si kucing.
Si anjing tidak menghiraukan ucapan si kucing dan masih tetap duduk di atas ayunan. Si kucing yang melihat anjing tidak beranjak sedikit pun dari duduknya merasa kesal dan malah memaki-maki si anjing.
“Kamu ga dengar ya? Aku bilang cepet pergi dari sini kamu tuli apa gimana?” Ucap kucing dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Anjing yang mendengar ucapan kucing yang semakin lama semakin kurang ajar, akhirnya dia membentak kucing.
“Kamu bisa diem ga? Aku lagi pusing! Kamu ga bisa lihat apa?” Bentak anjing kepada kucing.
Kucing yang mendengar ucapan anjing langsung sakit hati dan mulai menangis.
“Huwaaaaaaaaaaa, kamu jahatttt……” Ucap kucing yang sedang menangis.
Anjing yang melihat kucing menangis merasa tidak tega dan akhirnya anjing meminta maaf kepada kucing karena sudah membentak dan membuat dirinya sakit hati.
“Hei, sudah-sudah jangan menangis, maafkan aku karena sudah membentakmu,” ucap anjing yang merasa bersalah karena sudah membentak si kucing.
Anjing merasa bersalah karena sudah membentak kucing, kemudian anjing meminta maaf kepada kucing karena sudah membuatnya sedih.
“Maafkan aku kucing, aku ga sengaja membentak kamu,” ucap si anjing.
Kucing semakin menangis, si anjing yang mendengarnya semakin bingung bagaimana cara untuk menghentikan tangisan si kucing.
“Hei, sudah-sudah, jangan menangis lebih kencang, aku bingung bagaimana cara membuatmu agar tenang,” ucap si anjing.
Si kucing menangis terus menerus tanpa mendengarkan ucapan si anjing. Si anjing berinisiatif untuk memberikan makanan kepada si kucing dengan tujuan agar si kucing bisa berhenti menangis.
“Ini, aku kasih makanan, sudah-sudah jangan menangis lagi,” ucap si anjing kepada kucing.
Si kucing menerima makanan dan langsung memakan makanan yang diberikan oleh anjing. Setelah makanannya diterima oleh kucing, anjing langsung berdiri dan pergi dari taman tersebut. Si kucing yang tahu jika anjing akan pergi, dengan cepat dia meraih tangan anjing dan bertanya dia akan pergi ke mana.
“Tunggu, kamu mau ke mana?” tanya si kucing.
Si anjing berbalik dan menatap wajah si kucing, tanpa mengatakan apa pun, si anjing melepaskan genggaman tangan si kucing dan langsung berlalu pergi.
Keesokan harinya, si kucing tidak lagi melihat si anjing berada di taman. Si kucing berpikir apakah karena perkataannya kemarin membikin si anjing sakit hati dan tidak mau bermain lagi di taman tersebut.
“Kenapa ya anjing tidak bermain di sini lagi? Apakah karena ucapanku kemarin?”
Dalam hati kucing, dia merasa bersalah karena sudah membentak anjing dan berbicara kasar kepadanya. Si kucing menanti kedatangan anjing sampai sore hari tapi anjing tidak kunjung datang, akhirnya si kucing memutuskan untuk pulang dan berharap besok ketika dia kembali ke taman akan bertemu anjing dan meminta maaf kepadanya.
“Ya sudahlah aku pulang saja, aku akan kembali besok, semoga saja aku bisa bertemu anjing dan meminta maaf kepadanya,” uap si kucing dengan nada penyesalan.
Keesokan harinya si anjing berkunjung kembali ke taman, terlihat si kucing seolah olah sudah menanti kehadiran anjing dengan penuh semangat. Si kucing yang mengetahui anjing datang kembali ke taman merasa sangat senang dan gembira.
“Hai anjing!” Sapa kucing dengan semangat.
“Kamu kemarin ke mana? Aku menunggumu dari kemarin!” Ucap lagi kucing.
Si anjing hanya menoleh ke arah kucing tanpa mengatakan sepatah kata pun dan itu membuat kucing bingung kenapa anjing bersikap seperti itu.
“Kamu kenapa anjing? Aku mau minta maaf ke kamu karena perkataanku yang kemarin. Kamu pasti sakit hati karena aku sudah menghinamu.” Ucap kucing yang merasa bersalah kepada anjing.
“Aku kemarin sakit, makanya aku ga bisa datang ke sini. Aku juga sudah memaafkanmu dari sebelum kamu meminta maaf.” Jawab anjing.
Hati kucing merasa lega karena anjing sudah memaafkan dirinya. Setelah kejadian tersebut mereka selalu bermain bersama dari suka maupun duka, tetapi anjing tidak pernah menceritakan tentang kehidupannya, beda dengan kucing dia selalu cerita bagaimana hari-harinya. Hal itu membuat kucing penasaran kenapa anjing tidak pernah bercerita tentang dirinya walaupun hanya sedikit, karena rasa penasaran si kucing memberanikan diri untuk bertanya kepada anjing.
“Emm anjing, kenapa sih kamu ga pernah cerita tentang kamu ke aku? Ya walaupun cuma sedikit aku juga pengen tahu,” tanya si kucing.
“Hidup aku biar jadi urusan aku. Kamu ga perlu tahu,” jawab anjing.
Dari jawaban anjing, kucing bisa menyimpulkan bahwa anjing tidak mau menceritakan kisah tentang dirinya. Mereka berdua kini selalu bersama. Ke mana-mana pun juga selalu berdua.
Setelah melewati masa-masa bersama akhirnya mereka menjadi sahabat yang dekat dan akrab. []















