Mengapa Rangking atau Peringkat Murid Ditiadakan?

Kenapa Rangking Ditiadakan

oleh : Mochammad Ajib Nurfaizin, S.Pd., M.M. (Guru Manajemen Perkantoran SMKN Mojoagung)

Penghilangan rangking dalam Kurikulum Merdeka bukan berarti prestasi murid tidak dihargai, melainkan sebaliknya, guru ingin mengajak murid kembali pada fokus kemajuan dirinya sendiri, tidak sibuk membandingkan nilai dengan teman yang lainnya. Muncul persepsi dari beberapa murid dan orang tua, bahwa rangking seperti membuat proses belajar murid terasa seperti lomba, padahal setiap murid punya kemampuan dan kecepatan belajar yang berbeda. Kurikulum Merdeka hadir untuk menempatkan proses, usaha, dan perkembangan murid sebagai inti pembelajaran, agar semua murid merasa dihargai dan termotivasi untuk terus belajar. Belajar tidak lagi tentang siapa yang paling tinggi nilainya, tetapi siapa yang mau terus berusaha dan berkembang, belajar untuk berkembang, namun bukan untuk mengalahkan.

Ada beberapa pertimbangan yang menjadi dasar dari kebijakan ini. Secara sederhana saja, rangking dihapus karena tidak lagi dianggap sebagai tolok ukur utama keberhasilan dalam capaian belajar murid.

Ada beberapa ulasan mengapa rangking dihapus pada Kurikulum Merdeka :

1. Fokus pada kompetensi bukan kompetisi

Kurikulum Merdeka menekankan kompetensi dan kemajuan belajar tiap individu, bukan pada perbandingan antar siswa. Setiap anak berkembang dengan kecepatan dan gaya belajar yang unik dan berbeda-beda. Rangking sering membuat hasil belajar terlihat “perlombaan” dan bukan pada “proses”.

2. Mengurangi tekanan dan kecemasan berlebih

Selain mengubah orientasi belajar, penghapusan rangking juga berdampak besar pada kondisi psikologis murid. Dari beberapa penelitian yang dilakukan oleh lembaga/praktisi pendidikan, rangking terbukti dapat menimbulkan stres akademik, rasa cemas yang berlebih, rasa takut akan gagal, bahkan sampai pada burnout sejak usia sekolah. Maka dari itu Kurikulum Merdeka sebagai sebuah solusi dalam menciptakan suasana belajar yang lebih aman dan nyaman bagi murid untuk dapat mengembangkan segala potensi yang dimilikinya.

3. Mencegah pelabelan dan diskriminasi

Tekanan akademik yang muncul akibat rangking tidak berhenti pada aspek emosional, tetapi juga berdampak pada hubungan sosial murid. Pada momen pembagian rapor atau evaluasi hasil capaian pembelajaran, tidak sedikit beberapa guru dan orang tua bertanya tentang rangking anaknya Hal ini yang membuat anak merasa rendah diri. Murid yang kategori “pintar” merasa lebih unggul, sementara guru dan orang tua terkadang memperlakukan anak berdasarkan nomor rangking, sehingga hal ini dapat menimbulkan lingkungan yang tidak sehat dan dapat merusak tingkat percaya diri anak.

4. Penilaian saat ini lebih holistik

Untuk menjawab berbagai dampak tersebut, Kurikulum Merdeka menghadirkan pendekatan penilaian yang lebih menyeluruh. Pada Kurikulum Merdeka penilaian kegiatan pembelajaran dilakukan dengan menggunakan proses penilaian terpadu (asesmen formatif dan sumatif) yang dirancang untuk memantau dan meningkatkan pembelajaran siswa, bukan hanya mengukur hasil akhir, dengan fokus pada pemahaman minat, dan potensi siswa sejak awal (asesmen diagnostik). Dengan tujuan memberikan umpan balik yang konstruktif, mendorong adanya refleksi dan menyesuaikan strategi pengajaran agar lebih efektif, adil dan relevan dengan kebutuhan murid.

5. Mendorong kolaborasi bukan persaingan

Dalam Kurikulum Merdeka, pembelajaran yang mendorong kolaborasi murid menandai perubahan cara pandang dari budaya persaingan menuju budaya tumbuh bersama. Kolaborasi tidak sekadar membuat murid bekerja dalam kelompok, akan tetapi menumbuhkan kesadaran bahwa proses belajar adalah ruang saling melengkapi, bukan saling mengungguli. Ketika murid berdiskusi, berbagi peran, dan menyelesaikan masalah bersama, mereka belajar menghargai perbedaan kemampuan, sudut pandang, dan kecepatan belajar.

6. Fokus pada perbaikan diri dan pola pikir bertumbuh

Growth mindset atau pola pikir bertumbuh dalam Kurikulum Merdeka berfokus pada menanamkan kesadaran bahwa kemampuan bukan sesuatu yang statis, melainkan dapat dikembangkan melalui latihan, refleksi, dan umpan balik yang bermakna. Ketika murid terbiasa merefleksikan kemajuan dirinya sendiri, motivasi belajar tumbuh dari dalam, bukan karena perbandingan dengan orang lain. Sehingga  murid belajar untuk berkembang, dan bukan untuk sekadar dinilai.

Selanjutnya, apa pengganti rangking pada Kurikulum Merdeka?
Setelah memahami alasan penghapusan rangking, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana capaian belajar murid disampaikan kepada orang tua. Pada Kurikulum Merdeka, laporan hasil belajar atau rapor lebih berfokus pada deskripsi capaian kompetensi, umpan balik guru dan  portofolio murid. Dengan demikian, orang tua dapat mengetahui capaian belajar yang diperoleh oleh anaknya, apa yang perlu di tingkatkan dan bagaimana cara mendukungnya dalam kegiatan pembelajaran. Adapun yang dapat dilihat dari Asesmen Formatif  dan umpan balik bermakna, laporan kemajuan belajar murid yang berisi tentang narasi perkembangan kompetensi, serta portofolio belajar murid, yang diambil dari kegiatan proyek atau dalam bentuk refleksi diri. Peringkat mungkin masih ada secara sistem, namun tidak lagi menjadi pusat makna belajar.

Yang menjadi juara ialah murid yang mau belajar, berani mencoba, dan terus merefleksikan setiap proses belajarnya, sebagai bagian dari perjalanan tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. [MAN]

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *